Rabu, 06 Februari 2013

Biografi Syaikh Hamzah Fansury dan Pemikirannya

Biografi Syaikh Hamzah FansuryBiografi Syaikh Hamzah al-Fansury - Syeikh Hamzah Fansuri adalah seorang cendekiawan, ulama tasawuf, dan budayawan terkemuka yang diperkirakan hidup antara pertengahan abad ke-16 sampai awal abad ke-17. Nama gelar atau takhallus yang tercantum di belakang nama kecilnya memperlihatkan bahwa pendekar puisi dan ilmu suluk ini berasal dari Fansur, sebutan orang-orang Arab terhadap Barus, sekarang sebuah kota kecil di pantai barat Sumatra yang terletak antara kota Sibolga dan Singkel sampai abad ke-16 kota ini merupakan pelabuhan dagang penting yang dikunjungi para saudagar dan musafir dari negeri-negeri jauh.

Sayang sekali bukti-bukti tertulis yang dinyatakan kapan sebenarnya Syaikh Hamzah Fansuri lahir dan wafat, di mana dilahirkan dan di mana pula jasadnya dibaringkan dan di makamkan, tak dijumpai sampai sekarang. Dari syair dan dari namanya sendiri sudah sekian lama berdominasi di Fansur, dekat Singkel (Aceh Singkil), sehingga mereka dan turunan mereka pantas digelari Fansur. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri, ayah dari Abdur Rauf Singkel Fansuri. Pada ahli cenderung memahami dari syair bahwa Hamzah Fansuri lahir di tanah Syahmawi, tapi tidak ada kesepakatan mereka dalam mengidentifikasikan tanah Syahmawi itu, ada petunjuk tanah Aceh sendiri ada yang menunjuk tanah Siam, dan bahkan ada sarjana yang menunjuk negeri Persia sebagai tanah yang di Aceh oleh nama Syamawi.

Karya-karyanya Hamzah Fansury

Syair-syair Syaikh Hamzah Fansuri terkumpul dalam buku-buku yang terkenal, dalam kesusasteraan Melayu/Indonesia tercatat buku-buku syairnya antara lain :
  1. Syair burung pingai
  2. Syair dagang
  3. Syair pungguk
  4. Syair sidang faqir
  5. Syair ikan tongkol
  6. Syair perahu
Karangan-karangan Syeikh Hamzah Fansuri yang berbentuk kitab ilmiah antara lain :
  • Asfarul ‘arifin fi bayaani ‘ilmis suluki wa tauhid
  • Syarbul ‘asyiqiin
  • Al-Muhtadi
  • Ruba’i Hamzah al-Fansuri

Karya-karya Syeikh Hamzah Fansuri baik yang berbentuk syair maupun berbentuk prosa banyak menarik perhatian para sarjana baik sarjana barat atau orientalis barat maupun sarjana setempat, yang banyak membicarakan tentang Syeikh Hamzah Fansuri antara lain Prof. Syed Muhammad Naquib dengan beberapa judul bukunya mengenai tokoh sufi ini, tidak ketinggalan seumpama Prof. A. Teeuw juga r.O Winstedt yang diakuinya bahwa Syeikh Hamzah Fansuri mempunyai semangat yang luar biasa yang tidak terdapat pada orang lainnya. Dua orang yaitu J. Doorenbos dan Syed Muhammad Naquib al-Attas mempelajari biografi Syeikh Hamzah Fansuri secara mendalam untuk mendapatkan Ph.D masing-masing di Universitas Leiden dan Universitas London.

Karya Prof. Muhammad Naquib tentang Syeikh Hamzah Fansuri antaranya :
  • The Misticim of Hamzah Fansuri (disertat 1966), Universitas of Malaya Press 1970
  • Raniri and The Wujudiyah, IMBRAS, 1966
  • New Light on Life of Hamzah Fansuri, IMBRAS, 1967
  • The Origin of Malay Shair, Dewan Bahasa dan Pustaka, 1968

Di bidang keilmuan Syeikh Hamzah telah mempelajari penulisan risalah tasawuf atau keagamaan yang demikian sistematis dan bersifat ilmiah. Sebelum karya-karya Syeikh muncul, masyarakat muslim Melayu mempelajari masalah-masalah agama, tasawuf dan sastra melalui kitab-kitab yang ditulis di dalam bahasa Arab atau Persia. Di bidang sastra Syeikh mempelopori pula penulisan puisi-puisi filosofis dan mistis bercorak Islam, kedalaman kandungan puisi-puisinya sukar ditandingi oleh penyair lan yang sezaman ataupun sesudahnya. Penulis-penulis Melayu abad ke-17 dan 18 kebanyakan berada di bawah bayang-bayang kegeniusan dan kepiawaian Syeikh Hamzah Fansuri. Di bidang kesusastraan pula Syeikh Hamzah Fansuri adalah orang pertama yang memperkenalkan syair, puisi empat baris dengan skema sajak akhir a-a-a-a syair sebagai suatu bentuk pengucapan sastra seperti halnya pantung sangat populer dan digemari oleh para penulis sampai pada abad ke-20.

Di bidang kebahasaan pula sumbangan Syeikh Hamzah Fansuri sukar untuk dapat di ingkari apabila kita mau berjujur. Pertama, sebagai penulis pertama kitab keilmuan di dalam bahasa Melayu, Syeikh Hamzah Fansuri telah berhasil mengangkat naik martabat bahasa Melayu dari sekedar lingua Franca menjadi suatu bahasa intelektual dan ekspresi keilmuan yang canggih dan modern. Dengan demikian keduudkan bahasa Melayu di bidang penyebaran ilmu dan persuratan menjadi sangat penting dan mengungguli bahasa-bahasa Nusantara yang lain, termasuk bahasa Jawa yang sebelumnya telah jauh lebih berkembang. Kedua, jika kita membaca syair-syair dan risalah-risalah tasawuf Syeikh Hamzah Fansuri, akan tampak betapa besarnya jasa Syeikh Hamzah Fansuri dalam proses Islamisasi bahasa Melayu dan Islamisasi bahasa adalah sama dengan Islamisasi pemikiran dan kebudayaan.

Di bidang filsafat, ilmu tafsir dan telaah sastra Syeikh Hamzah Fansuri telah pula mempelopori penerapan metode takwil atau hermeneutika keruhanian, kepiawaian Syeikh Hamzah Fansuri di bidang hermeneutika terlihat di dalam Asrar al-‘arifin (rahasia ahli makrifat), sebuah risalah tasawuf klasik paling berbobot yang pernah dihasilkan oleh ahli tasawuf nusantara, disitu Syeikh Hamzah Fansuri memberi tafsir dan takwil atas puisinya sendiri, dengan analisis yang tajam dan dengan landasan pengetahuan yang luas mencakup metafisika, teologi, logika, epistemologi dan estetika. Asrar bukan saja merupakan salah satu risalah tasawuf paling orisinal yang pernah ditulis di dalam bahasa Melayu, tetapi juga merupakan kitab keagamaan klasik yang paling jernih dan cemerlang bahasanya dengan memberi takwil terhadap syair-syairnya sendiri Syeikh Hamzah Fansuri berhasil menyusun sebuah risalah tasawuf yang dalam isinya dan luas cakrawala permasalahannya.

Biografi Abu Keumala | Tgk. H Syihabuddin Syah

Biografi Abu Keumala - Ulama yang Sederhana dan Menyukai Kholwat Secara umum masyarakat di Aceh lebih mengenal Teungku Haji Syihabuddin Syah dengan nama Abu Keumala, nama tersebut merupakan nama panggilan beliau sewaktu mengaji di Labuhan Haji.

Selain sebagai ulama, Abu Keumala juga di kenal sebagai orator ulung di masanya. Keunikan pidato Abu Keumala adalah apa saja yang dilihat atau yang sedang terjadi, bisa beliau ciptakan sebagai perbandingan dalam berpidato, terutama yang menyangkut tentang masalah ketauhidan.

Abu Keumala merupakan pencerah di bidang Tauhid Sehingga beliau juga di gelar sebagai Ulama Tauhid. Disamping mengadakan pengajian dan ceramah, Abu Keumala juga aktif menulis, di antara buku karangan beliau yang terkenal adalah Risalah Makrifah.
Biografi Abu Keumala | Tgk. H Syihabuddin Syah

Asal usul Abu Keumala

Seuneuddon merupakan salah satu kecamatan di pesisir Aceh Utara, daerah ini telah banyak melahirkan ulama–ulama besar, tapi kebanyakan ulama tersebut tidak bermukim di Seuneuddon. Di antara ulama besar yang tidak bermukim di Seuneuddon tersebut adalah: Teungku Muhammad (Abu Seuriget) Pimpinan Dayah Darul Mu'arif Langsa, Teungku Muhammad Amin pendiri dayah Malikussaleh Panton Labu (mulai tahun 1965–1975), Teungku Ibrahim Bardan (Abu Panton) pimpinan Dayah Malikussaleh di Panton Labu (mulai tahun 1975 hingga sekarang), Teungku Karimuddin (Abu Alue Bilie) pimpinan dayah Babussalam Panteu Breuh, Kemudian Teungku Syihabuddin Syah atau yang lebih terkenal dengan panggilan Abu Keumala juga berasal dari Seuneuddon, tepatnya di desa Tanjong Pineung, beliau lahir sekitar tahun 1928.

Ketinggian ilmu agama Teungku Syihabuddin Syah karena beliau merupakan murid ulama–ulama besar di Aceh. Semenjak remaja Teungku Syihabuddin Syah sudah belajar di dayah Keumala Kabupaten Pidie kemudian di dayah Labuhan Haji, Aceh Selatan yang dipimpin oleh ulama besar Teungku Haji Muhammad Waly Al-Khalidi (Abuya Muda Waly). Karena lama belajar di dayah Keumala , maka Teungku Syihabuddin Syah dikenal dengan panggilan Teungku Keumala atau Abu Keumala.

Mungkin panggilan seperti ini agak sedikit tidak lazim, karena biasanya seorang ulama dipanggil berdasarkan nama kampung asal atau tempat di mana beliau menetap, bukan dimana tempat beliau mengaji. Teungku Syihabuddin Syah menikah pada tahun 1957 dengan salah seorang putri yang merupakan cucu gurunya di Keumala, dari perkawinan tersebut beliau dianugrahi Sembilan orang anak.

Abu Keumala Bermukim di Medan

Ketika Konflik bersenjata di Aceh tahun 1953, beliau memperlihatkan sikap tidak menyetujuinya. Karena itu beliau pindah ke Medan. Seorang pemuka masyarakat, Haji Manyak Meureudu, mewakafkan sebidang tanah 25 x 25 meter yang diatasnya ada bangunan sederhana terletak dipasar II jalan Sei Wampu, Kampung Babura, Medan Baru. Di tempat ini ditampung 30 orang pelajar Aceh yang menuntut ilmu di berbagai peguruan tinggi di Medan. Di tempat itu juga Ustadz Syihabuddin memberi pelajaran agama, baik bagi penghuni asrama maupun bagi kaum muslimin di sekitar tempat itu. Di tempat itu juga Ustadz Syihabuddin memberi pelajaran agama kepada keluarga – keluarga tokoh – tokoh masyarakat Aceh di Medan.

Pertikaian antara dua etnis di Medan pada tahun 1956, menyebabkan Asrama Pelajar di Pasar II Jalan Sei Wampu Kampung Babura Medan Baru, diserbu oleh sekitar 36 orang tidak dikenal. Asrama tersebut di porak–porandakan, kemudian dibakar. Penghuninya Teungku Syihabuddin Syah yang mengajar di tempat itu di pukul dengan broti di kepalanya hingga tidak berdaya namun beliau dapat di selamatkan ke rumah sakit.

Hancurnya asrama yang selama itu di huni oleh 30 orang pelajar dan mahasiswa yang juga tempat pengajian bagi masyarakat yang ada di sekitar tempat itu, maka menjadi masalah bagi pemuka – pemuka masyarakat Aceh di Medan. Mereka mencari jalan untuk menampung pelajar dan mahasiswa yang asramanya tidak ada lagi juga tempat pengajian telah porak–poranda.

Pendirian Sekolah Islam

Masalah asrama pelajar/mahasiswa Aceh sekaligus tempat pengajian berhasil diatasi pada tahun 1956 itu juga. Hal itu berkat jasa baik Tuanku Hasyim S.H. atas nama Yayasan Sosial Medan mewakafkan sebidang tanah ukuran 9,5 x 17 meter. Di atas tanah itu ada bangunan tua yang dapat digunakan. Tanah itu terletak di pasar Melintang, sekarang Jalan Darussalam 24 Medan. Nama jalan itu diusulkan oleh Teungku Syihabuddin Syah kepada Wali Kota Medan dan di terima baik oleh Wali Kota, Haji Muda Siregar (tahun 1957).

Karena digunakan untuk kegiatan pendidikan agama, maka pada tahun 1960 tempat itu diberi nama Asrama Madrasah Pesantren Miftahussalam. Kemudin dibuka SRI (Sekolah Rendah Islam), SMI (Sekolah Menengah Islam), SMIA (Sekolah Menengah Islam Atas), yang langsung dipimpin oleh Teungku Syihabuddin Syah dan Teungku Abdussalam Abdullah. Nama tingkat pendidikan itu kemudian berubah menjadi Diniyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.

Untuk memperkokoh perhatian kaum muslimin terhadap Miftahussalamah, Teungku Syihabuddin Syah mengajar orang–orang tua murid untuk mengikuti majelis pengajian yang diberi nama Safinatussalamah (kapal penyelamat), sedangkan yang menjadi guru adalah beliau sendiri. Pengajian itu berkembang dengan pesat di kota Medan. Pada waktu yang bergiliran Teungku Syihabuddin Syah memberi pengajian yang berjumlah sekitar 11 tempatdi Kota Medan dengan menggunakan kendaraan VW Combi yang di setir oleh beliau sendiri.

Nama komplek Asrama Madrasah Pesantren itu oleh Teungku Syihabuddin Syah diganti pada tahun 1977 menjadi Pendidikan Islam Miftahussalam. Lancarnya pembangunan komplek Miftahussalam itu atas dasar wakaf kaum muslimin, sehingga berhasil membuka SLTP dan SMU Darussalam. Tenaga pengajarnya adalah para sarjana dari berbagai disiplin ilmu yang menjadi penghuni asrama.

Pendidikan Islam Miftahussalam telah berbadan hukum , yang Ketua Umumnya adalah Teungku Syihabuddin Syah, maka sekarang sudah lengkap tingkat pendidikan agama, dan juga SLTP dan SMU. Komplek Miftahussalam pada tahun 2004 menampung sekitar 1500 siswa dan siswi yang belajar pagi dan sore. Siswi SLTP dan SMU semua berjilbab dan pada waktu shalat Ashar seluruh siswa yang belajar sore shalat berjamaah di Mesjid Taqarrub. Di komplek Mesjid Taqarrub juga dibuka TK Al-Qur’an.

Ketika Asrama dan Pesantren Miftahussalam masih merupakan bangunan yang sangat sederhana, Abu Keumala mempunyai ruangan sendiri sekaligus tempat tinggalnya. Selama beberapa tahun di tempat itu beliau melakukan Khulwah di setiap bulan Ramadhan. Selama Khulwah beliau tidak berbicara dengan siapapun, komunikasi dilakukan dengan surat menyurat.

Abu Keumala, Akhir hayat

Sebelum meninggal kesehatan beliau terus menurun. Mula–mula gangguan mata hingga tidak dapat membaca kitab, walaupun telah berobat ke dokter ahli mata di Medan, tidak juga membawa hasil. Juga di bawa berobat ke Penang namun tidak ada perobahan. Kemudian datang lagi gangguan penyakit gula. Begitu pun beliau tetap berusaha menjadi imam seperti dalam bulan Ramadhan. Juga beliau memberi kuliah agama, walaupun porsinya tidak seperti sebelumnya.
"Seorang demi seorang benteng agama meninggalkan kita. Kita bersedih bukan karena kepergian beliau, tetapi karena hilangnya benteng agama, mujahid Islam yang telah banyak jasanya kepada masyarakat".
Demikian dikatakan oleh Al-Ustadz Drs Haji Halim Harahap, mewakili para khatib Masjid Taqarrub Jalan Darussalam 26 ABC Medan, ketika melepas jenazah Al – Ustadz Teungku Haji Syihabuddin Syah atau Abu Keumala sebelum di berangkatkan ke tempat persemayaman terakhir di komplek perkuburan Mesjid Raya Al-Mansur jalan Sisingamangaraja, Medan.

Abu Keumala meninggal di rumah kediamannya di jalan Karya Bhakti Gang Rukun No: 2 Medan, setelah menderita sakit semenjak bulan April 2004. Beliau meninggal hari Jumat, 9 Juli 2004. Upacara pelepasan jenazah dilangsungkan di Mesjid Taqarrub, mesjid yang beliau bangun bersama kaum muslimin, baik yang ada di Medan maupun yang berada di luar Kota Medan.

Masjid tempat beliau mengucurkan ilmu agama, baik dalam pengajian baik dalam pengajian ibu–ibu dan bapak-bapal. Kuliah agama di berikan di mesjid itu terutama di bulan Ramadhan selesai Shalat Tarawih, kemudian kuliah Shubuh baik di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan.

Pada acara pelepasan juga ikut berbicara Prof Dr Haji Aslim Sihotang yang menguraikan tingginya ilmu yang di miliki oleh Almarhum Al–Ustadz Teungku Haji Syihabuddin Syah atau Abu Keumala. Ia menganjurkan supaya kitab yang ditulis olh Almarhum pada tahun 1983 yang 4 jilid berjudul Risalah Makrifah agar di cetak, yang pelaksanaannya dapat dilakukan oleh murid-muridnya.

(Tgk Zulfahmi MR; staff pengajar di Dayah Raudhatul Ma'arif Cot Trueng – Muara Batu – Aceh Utara, Tulisan ini Merupakan nukilan dari buku : Biografi Ulama - Ulama Aceh Abad XX Jilid III)

Biografi Abu Cot Kuta | Ulama Kharismatik Aceh

Biografi Abu Cot Kuta - Abu bakar bin Muhammad Ali lahir di desa Babah Buloh. Tahun kelahiran beliau tidak diketahui secara pasti, tapi menurut perkiraan beliau lahir dipenghujung abad 19. Ayah beliau berasal dari Meunasah Paloh wilayah Zelfbestuur Keureuto, sekarang berada di kecamatan Tanah pasir kabupaten Aceh Utara, Sebagai seorang pandai besi ayah beliau biasa disapa Utoh Ali dan sering berkeliling ke berbagai daerah untuk menjual hasil kerajinannya.

Biografi Abu Cot Kuta | Ulama Kharismatik AcehSeringnya beliau berjualan di Krueng Mane yang pada waktu itu masih berada di bawah Zelfbestuur Sawang, sehingga beliau berkenalan dengan Ampon Lutan (Ulee Balang Krueng Mane). Dalam satu dialoq Ampon Lutan berkata “anda jangan lagi berjualan kesini”, Utoh Ali bertanya: “apakah tidak boleh saya berjualan di negri tuan?” Ampon Lutan menjawab: “bukan tidak boleh, tapi tinggal disini saja”, Utoh Ali berkata: “asal ada tempat yang cocok, saya mau menetap dinegri tuan”. Maka Ampon Lutan meminta kepada adiknya yaitu Ampon Ubit

untuk mencarikan tanah untuk tempat menetap Utoh Ali. Ampon Ubit pun memanggil petua Gampong Teungoh untuk menempatkan Utoh Ali di Cot Kuta yaitu nama sebuah gundukan tanah di desa Babah Buloh wilayah Sawang.

Kemudian hijrahlah Utoh Ali ke Cot Kuta. Utoh Ali mempunyai dua orang istri, dari istri yang pertama yang berasal dari Cot Jabet - Gandapura dianugerahi tiga orang anak:

  1. Tgk Abu Bakar (Abu Cot Kuta)
  2. Tgk Majid
  3. Cut Aisyah

Dari istri yang kedua juga dianugerahi tiga orang anak:

  1. Tgk Syamaun
  2. Cut Hawiyah
  3. Tgk. M. Yusuf

Abu Cot Kuta (Tgk Abubakar) kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, sehingga beliau bersekolah Cuma seperdua masa belajar murid yang lain. Beliau bersekolah enam bulan kemudian diliburkan selama enam bulan, karena beliau sudah menguasai seluruh materi pelajaran dalam waktu singkat. Setelah tamat volkschool di Krueng Mane beliau mengaji ke dayah Tgk Ahmad Pulo Reudeup (Tgk di Lampoh, meninggal Nofember 1982) di Peusangan. Setelah merasa cukup mengecap pendidikan Dayah, beliau menikah dengan seorang gadis di daerahnya. Tapi setelah melahirkan seorang putra disaat umur bayi baru 15 hari sang istripun berpulang ke rahmatillah, bayi tersebutdiberi nama Tgk Hasan (lahir Rabu 4 Syakban 1349H/24 Desember 1930) dan dititipkan kepada adik beliau Cut Hawiyah.

Kemahiran beliau dalam mengarang syair merupakan alasan mengapa beliau sering menjadi syekh kesenian tradisional Meuseukat (sejenisRapa-i geleng), hal tersebut membuat ayah beliau marah, sehingga Utoh Ali mengancam anaknya untuk mengaji lagi hingga Alim, kalau tidak alim tidak boleh pulang. Maka merantaulah Tgk Abubakar ke Samalanga untuk mengaji di dayah Tgk Idris Tanjongan (kakek buyut dari Tu Subhiah, istri ayah Cot Trueng), beliau menetap di Samalanga 17 Rabiul Akhir 1/50/1 September 1931. Pada waktu itu Tgk Idris sudah uzur, sehingga Tgk Abubakar cuma membacakan kitab sedangkan Tgk Idris menyimaknya dipembaringan. Karena Tgk Abubakar sudah pernah mengaji sebelum ke Samalanga maka secara otomatis beliau menjadi guru pembantu (teungku rangkang) bagi gurunya. Setelah beberapa lama beliau menjadi teungku rangkang beliaupun mempersunting Cut Saudah binti Sabi (meninggal 13 Juni 1986) di Samalanga,dari perkawinan tersebut beliau memperoleh tiga orang anak:

  1. Cut Habsah ( lahir Minggu 4 Ramadhan 1352/21 Desember 1933 di Samalanga merupakan ibunda dari Tgk H M Amin bin M. Daud “Ayah Cot Trueng”)
  2. Tgk Husein ( lahir Senin 10 Jumadil Akhir 1354/8 September 1935 di Cot Seurani - Krueng Mane, sempat mengajike Krueng Kalee Aceh Besar dan ke JahoSumatra Barat, meninggal 24 Rabiul Akhir 1374/21 Desember 1954)
  3. Cut Halimah ( lahir Sabtu 4 Jumadil Akhir 1360/29 Juni 1941 di Cot Seurani - Krueng Mane, meninggal Oktober 2001)

Ampon Lutan ingin menempatkan seorang qadhi yang “cakap” di Krueng Mane, beliau bermusyawarah dengan adiknya yaitu Ampon Ubit mengenai siapa yang akan di jadikan sebagai qadhi. Maka Ampon Ubit mengusulkan untuk menjemput Tgk Abubakar di Samalanga. Maka Ampon Lutan menemui Ampon Chik Samalangauntuk meminta izin menjemput Tgk Abubakar yang sudah menjadi ulama diSamalanga, Ampon Chik di Samalanga pun mengizinkannya. Untuk membuktikan kepiawan Tgk Abubakar sebagai seorang ulama maka Ampon Lutan mengadakan perdebatan agama antara Tgk Abubakar dengan ulama setempat, mungkin pada tahun 1934. setelah terbukti ke”cakapan” Tgk Abubakar, Ampon Lutan pun menempatkan Tgk Abubakar sebagai Qadhi di krueng Mane serta membuka dayah di mesjid Krueng Mane (sekarangmesjid tua Krueng Mane di Cot Seurani).Maka terkenallah sebuah dayah salafi disekitar Lhokseumawe yang dikunjungi oleh santri dari berbagai daerah di Aceh. Menurut Prof Dr Mahmud Yunus dalam buku Sejarah Pendidikan Islam diIndonesia halaman:176, dayah Tgk Abu Bakar Cot Kuta di Lhokseumawe merupakan salah satu dayah dizaman pembaharuan yang masyhur. Tapi walaupun berada dizaman pembaharuan Tgk Abu bakar masih menganut sistim lama, yaitu mengaji dengan cara menamatkan kitab satu persatu tanpa mengenal kelas dan kurikulum yang teratur sebagaimana sekarang. Sebagaimana adat di Aceh seorang ulama biasa dipanggil dengan “Abu” serta merangkaikan nama kampung dibelakang namanya, maka terkenallah beliau dengan Abu Cot Kuta. Murid beliau yang terkenal selama di Krueng Mane diantaranya TgkSulaiman (Abu Lhoksukon) dan Kiyai Hamid Paya Rabo.

Pemberontakan Tgk Abdul Jalil Cot Plieng Bayu terhadap Jepang membuat Jepang curiga terhadap dayah- dayah di Aceh dan melakukan sweeping sehingga banyak dayah yang sepi, begitu pula dayah Abu Cot Kuta. Pada suatu sweeping tentara Jepang pernah menanyakan “apakah kitab yang diajarkan oleh Abu Cot Plieng sama dengan yang diajarkan disini?” Abu Cot Kuta menjawab “tidak sama, yangdiajarkan disana kitab kuning, sedangkan disini tidak seberapa kuning” Teror Jepang terhadap dayah-dayah di Aceh terus berlanjut hingga mematikan aktifitas belajar banyak dayah di Aceh, keadaan seperti itu membuat Abu Cot Kuta tidak betah lagi mengajar di Krueng Mane. Maka atas inisiatif Tgk Yahya (pimpinan Dayah Nashrul Mutha’allimin Ie Rhot Ulee Madon, Muara Batu) meminta kepada pemuka-pemuka kemesjidan Cot Trueng untuk membujuk Abu Cot Kuta agar mau pindah ke mesjid Cot Trueng, gayungpun bersambut, Abu Cot Kuta menyanggupinya.

Maka hijrahlah Abu Cot Kuta ke mesjid Cot Trueng, tapi beliau tidak mengizinkan dulu untuk mendirikan balai-balai sebagaimana layaknya sebuah dayah. Beliau Cuma mengajar dimesjid (sekarang “Mesjid Tuha” didirikan oleh Teungku Bentara Keumangan thn 1823 M) dan di balai bekas mesjid lama (sekarang “Balee Pusaka” didirikan tahun 1823 M), setelah setahun di Cot Trueng didirikanlah balai yang berkamar (sekarang Balee Puteh). Setelah situasi dianggap cocok maka pada tahun 1946 beliau meresmikan Dayah Raudhatul Ma’arif di mesjid Al-Akmal desa Cot Trueng kecamatan Muara Batu kabupaten Aceh Utara. Untuk ukuran masa tersebut jumlah murid yang mencapai 150 orang merupakan jumlahyang banyak, sehingga dayah Cot Trueng merupakan dayah yang maju dimasa itu. Diantara murid-murid beliau yang terkenal selama di Cot Trueng ialah Tgk Syafii Aron, Tgk M.Isa Peurupok dll.

Keterlibatan Abu Cot Kuta dalam dunia politik di mulai semenjak seruan Tgk M. Hasan (Abu Krueng Kalee) agar ulama dayah tergabung dalam PERTI (Persatuan Tarbiah Islam). Keaktifan beliau dalam PERTI sejak tahun 1957 hingga 1969, beliau merupakan ketua PERTI anak cabang (ranting) Muara Batu, sekaligus penasehat PERTI kabupaten.

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”, Allah telah memanggil Abu Cot Kuta kehadiratnya pada hari Minggu 16 Nofember 1969 M / 6 Ramadhan 1389 Hjam 11.00 pagi. Tidak ada yang tahu dengan pasti berapa umur beliau disaatmeninggal, tapi menurut perkiraan orang tua di Cot Trueng usia beliau ketika itu sekitar 70 tahun atau bahkanmungkin lebih. Nama yang harum telahdiukir oleh Abu Cot Kuta khususnya bagi masyarakat kecamatan Muara Batukarena semenjak tahun 30an hingga 1971 beliau merupakan lampu penerang umat sekaligus sebagai qadhidi kecamatan Muara Batu. Semoga arwah beliau selalu dalam limpahan rahmat Allah. Amien Ya Rabbal ‘Alamin.

Ditulis Oleh : Tgk Zulfahmi MR, staf pengajar di Dayah Raudhatul Ma’arif Cot Trueng,
Tulisan ini Berdasarkan Wawancara Dengan Utoh Hasan Cot Trueng (sahabat Abu Cot Kuta) dan Tgk A.Jalil Glee Dagang (menantu Abu Cot Kuta).

Biografi Abdurrauf as-Singkily - Teungku Syiah Kuala

Biografi Abdurrauf as-Singkily - Syekh Abdurrauf Singkil (Singkil, Aceh 1024 H/1615 M - Kuala Aceh, Aceh 1105 H/1693 M) adalah seorang ulama besar Aceh yang terkenal. Ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatera dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Teungku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala).
Biografi Abdurrauf as-Singkily
Nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Menurut riwayat masyarakat, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar pada ayahnya sendiri. Ia kemudian juga belajar pada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, ia pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses pelawatannya ia belajar pada berbagai ulama di Timur Tengah untuk mendalami agama Islam.

Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, syaikh untuk Tarekat Syattariyah Ahmad al-Qusyasyi adalah salah satu gurunya. Nama Abdurrauf muncul dalam silsilah tarekat dan ia menjadi orang pertama yang memperkenalkan Syattariyah di Indonesia. Namanya juga dihubungkan dengan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an bahasa Melayu atas karya Al-Baidhawi berjudul Anwar at-Tanzil Wa Asrar at-Ta'wil, yang pertama kali diterbitkan di Istanbul tahun 1884.
Biografi Abdurrauf as-Singkily

Pengajaran dan Buah Karya-karyanya

Abdurrauf as-Singkily diperkirakan kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan mengajarkan serta mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya. Murid yang berguru kepadanya banyak dan berasal dari Aceh serta wilayah Nusantara lainnya. Beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan (dari Pariaman, Sumatera Barat) dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (dari Tasikmalaya, Jawa Barat).

Azyumardi Azra menyatakan bahwa banyak karya-karya Abdurrauf Singkil yang sempat dipublikasikan melalui murid-muridnya. Di antaranya adalah:

  1. Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab. Karya di bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin.
  2. Tarjuman al-Mustafid. Merupakan naskah pertama Tafsir Al Qur’an yang lengkap berbahasa Melayu.
  3. Terjemahan Hadits Arba'in karya Imam Al-Nawawi. Kitab ini ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin.
  4. Mawa'iz al-Badî'. Berisi sejumlah nasihat penting dalam pembinaan akhlak.
  5. Tanbih al-Masyi. Kitab ini merupakan naskah tasawuf yang memuat pengajaran tentang martabat tujuh.
  6. Kifayat al-Muhtajin ilâ Masyrah al-Muwahhidin al-Qâilin bi Wahdatil Wujud. Memuat penjelasan tentang konsep wahadatul wujud.
  7. Daqâiq al-Hurf. Pengajaran mengenai taswuf dan teologi.

Wafat Abdurrauf as-Singkily

Abdurrauf Singkil meninggal dunia pada tahun 1693, dengan berusia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh.

Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrauf_Singkil
Rinkes, D.A., Abdoerraoef van Singkel: Bijdrage tot de kennis van de mystiek op Sumatra en Java. Ph.D. diss., Leiden, 1909.
al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Some Aspects of Sufism as Understood and Practised among the Malays. Penyunting oleh Shirley Gordon. Singapore : Malaysian Sociological Research Institute, 1963.
Adan, Hasanuddin Yusuf. Melacak Gelar Negeri Aceh, dalam website The Aceh Institute © Copyrights - 2007.
Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Penerbit Kencana, Jakarta. Cetakan I, 1998.